Kamis, 23 Januari 2014

Perajin Songkok di Desa Bonto kassi, Galesong

Tidak banyak yang tahu jika di Takalar, ada sebuah desa yang hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai pengrajin anyaman serat lontar. Selama berpuluh-puluh tahun, penduduk Desa Bontokassi, Kecamatan Galesong Selatan, masih setia menganyam serat lontar yang disulap menjadi beragam kerajinan cantik.

Jari jemari Linda, 30 tahun, bergerak lincah menganyam helaian serat lontar menjadi sebuah songkok. Serat lontar berasal dari pohon lontar yang merupakan tanaman khas Sulawesi. Di Takalar sendiri, pohon lontar tergolong mudah ditemukan.

Sepintas, songkok yang dibuat Linda dan pengrajin lainnya hampir mirip dengan songkok yang diproduksi pengrajin di Kabupaten Bone. Bentuk yang sama, dengan bahan yang juga sama. Namun jika diteliti, Anda akan menemukan perbedaan yang sangat besar. Tidak seperti songkok tau Bone, motif anyaman serat lontar buatan penduduk di sini lebih bervariasi, dan kaya akan warna-warni indah.

Bukan hanya songkok, pengrajin di Desa Bontokassi ini juga menganyam serat lontar menjadi benda-benda lainnya. Seperti hiasan gerabah, kipas tangan, hingga gelang. Setiap pengrajin, dapat menghasilkan puluhan kerajinan serat lontar dalam sebulan untuk dipasarkan oleh pengumpul, maupun dipesan langsung secara individu.

"Dari kecil kita sudah harus pandai menganyam serat lontar. Kalau tidak pandai, kita bisa disebut malas," kata Linda, Selasa, 27 November.

Menurut Linda, proses pembuatan kerajinan serat lontar terbilang cepat. Tergantung bentuk kerajinan yang akan dibuat. Semakin banyak alur anyamannya, semakin lama proses pembuatannya. Namun dibandingkan dengan proses pembuatan kerajinan serat lontar, proses untuk mendapatkan serat lontar-lah yang sebenarnya cukup sulit.

Awalnya, pelepah lontar diolah dengan cara ditumbuk hingga seratnya keluar. Pelepah yang telah ditumbuk lalu direndam tiga minggu sampai satu bulan di dalam air. Serat yang seperti tali inilah yang menjadi bahan utama kerajinan ini. "Semakin lama direndam air, semakin bagus serat lontar yang dihasilkan," tambah Daeng Te'ne, pengrajin lainnya.

Setelah serat dipisahkan, selanjutnya dikumpulkan menjadi gulungan tali dalam bentuk ikatan kemudian dijemur hingga sampai kering selama tiga hingga satu minggu. Satu pohon lontar bisa menghasilkan hingga 30 ikat serat lontar. Satu ikat lontar, dapat dijadikan satu buah songkok. Serat lontar yang telah dijemur, lalu diberikan zat pewarna. Caranya, serat lontar direbus ke dalam air mendidih yang telah dibubuhkan zat pewarna.

"Untuk warna hitam alami, ada juga yang merendam serat lontar dalam kubangan lumpur sawah," papar Linda.

Serat inilah yang kemudian dianyam menggunakan peralatan tradisional hingga berbentuk songkok dan lain sebagainya. Anyaman serat lontar ini juga dapat dipadukan dengan benang khusus. Untuk menghasilkan satu songkok guru yang berpadu dengan benang emas, pengrajin bisa membuatnya hingga berminggu-minggu. Selain kreasi dari pengrajin, kini pemesan juga bisa mengajukan warna dan motif yang diinginkan kepada pengrajin.




Hasilnya pun sangat indah dan tentunya mempunyai kualitas yang awet hingga berpuluh-puluh tahun. Sayang harga anyaman serat lontar di kalangan perajin ini terbilang murah. Misalnya, satu songkok paling murah dihargai Rp25.000. Namun untuk kerajinan khusus songkok dengan motif dan kualitas lebih baik yang membutuhkan proses lebih lama, bisa mencapai Rp300 ribu per buah.

Meski demikian, para pengrajin tetap bersyukur sebab hal ini telah menjadi pendapatan mereka secara turun temurun selain bertani. "Memang terbilang murah. Seharusnya pemerintah ikut mengatur harga pemasaran. Dan menyediakan fasilitas seperti showroom," terang Linda.






Diakui Linda, tidak cukup jika hanya mengandalkan pemasaran melalui pengumpul atau pemesan yang datang ke rumahnya. Ia juga memanfaatkan dunia maya untuk memasarkan produk-produk tersebut. Mulai dari situs jejaring sosial seperti Facebook, hingga situs jual beli online. Dari sinilah, produk-produk kerajinan tangannya dapat merambah hingga ke berbagai wilayah Indonesia.

"Responnya sangat besar. Kita juga bahkan sering mendapatkan order dari Bali, Surabaya dan daerah lainnya," sebut Linda.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi Takalar, Muhammad Ridwan Rahim mengatakan jika pemkab berupaya untuk mengembangkan kembali produk-produk unggulan di Takalar. Salah satunya dengan membangun kembali showroom yang memajang berbagai produk-produk unggulan khas Takalar. "Mudah-mudahan segera terwujud tahun depan," harapnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar