Tidak banyak yang tahu jika di Takalar, ada sebuah desa yang hampir
seluruh penduduknya bekerja sebagai pengrajin anyaman serat lontar.
Selama berpuluh-puluh tahun, penduduk Desa Bontokassi, Kecamatan
Galesong Selatan, masih setia menganyam serat lontar yang disulap
menjadi beragam kerajinan cantik.
Jari jemari Linda, 30 tahun,
bergerak lincah menganyam helaian serat lontar menjadi sebuah songkok.
Serat lontar berasal dari pohon lontar yang merupakan tanaman khas
Sulawesi. Di Takalar sendiri, pohon lontar tergolong mudah ditemukan.
Sepintas,
songkok yang dibuat Linda dan pengrajin lainnya hampir mirip dengan
songkok yang diproduksi pengrajin di Kabupaten Bone. Bentuk yang sama,
dengan bahan yang juga sama. Namun jika diteliti, Anda akan menemukan
perbedaan yang sangat besar. Tidak seperti songkok tau Bone, motif
anyaman serat lontar buatan penduduk di sini lebih bervariasi, dan kaya
akan warna-warni indah.
Bukan hanya songkok, pengrajin di Desa
Bontokassi ini juga menganyam serat lontar menjadi benda-benda lainnya.
Seperti hiasan gerabah, kipas tangan, hingga gelang. Setiap pengrajin,
dapat menghasilkan puluhan kerajinan serat lontar dalam sebulan untuk
dipasarkan oleh pengumpul, maupun dipesan langsung secara individu.
"Dari
kecil kita sudah harus pandai menganyam serat lontar. Kalau tidak
pandai, kita bisa disebut malas," kata Linda, Selasa, 27 November.
Menurut
Linda, proses pembuatan kerajinan serat lontar terbilang cepat.
Tergantung bentuk kerajinan yang akan dibuat. Semakin banyak alur
anyamannya, semakin lama proses pembuatannya. Namun dibandingkan dengan
proses pembuatan kerajinan serat lontar, proses untuk mendapatkan serat
lontar-lah yang sebenarnya cukup sulit.
Awalnya, pelepah lontar
diolah dengan cara ditumbuk hingga seratnya keluar. Pelepah yang telah
ditumbuk lalu direndam tiga minggu sampai satu bulan di dalam air. Serat
yang seperti tali inilah yang menjadi bahan utama kerajinan ini.
"Semakin lama direndam air, semakin bagus serat lontar yang dihasilkan,"
tambah Daeng Te'ne, pengrajin lainnya.
Setelah serat dipisahkan,
selanjutnya dikumpulkan menjadi gulungan tali dalam bentuk ikatan
kemudian dijemur hingga sampai kering selama tiga hingga satu minggu.
Satu pohon lontar bisa menghasilkan hingga 30 ikat serat lontar. Satu
ikat lontar, dapat dijadikan satu buah songkok. Serat lontar yang telah
dijemur, lalu diberikan zat pewarna. Caranya, serat lontar direbus ke
dalam air mendidih yang telah dibubuhkan zat pewarna.
"Untuk warna hitam alami, ada juga yang merendam serat lontar dalam kubangan lumpur sawah," papar Linda.
Serat
inilah yang kemudian dianyam menggunakan peralatan tradisional hingga
berbentuk songkok dan lain sebagainya. Anyaman serat lontar ini juga
dapat dipadukan dengan benang khusus. Untuk menghasilkan satu songkok
guru yang berpadu dengan benang emas, pengrajin bisa membuatnya hingga
berminggu-minggu. Selain kreasi dari pengrajin, kini pemesan juga bisa
mengajukan warna dan motif yang diinginkan kepada pengrajin.
Hasilnya
pun sangat indah dan tentunya mempunyai kualitas yang awet hingga
berpuluh-puluh tahun. Sayang harga anyaman serat lontar di kalangan
perajin ini terbilang murah. Misalnya, satu songkok paling murah
dihargai Rp25.000. Namun untuk kerajinan khusus songkok dengan motif dan
kualitas lebih baik yang membutuhkan proses lebih lama, bisa mencapai
Rp300 ribu per buah.
Meski demikian, para pengrajin tetap
bersyukur sebab hal ini telah menjadi pendapatan mereka secara turun
temurun selain bertani. "Memang terbilang murah. Seharusnya pemerintah
ikut mengatur harga pemasaran. Dan menyediakan fasilitas seperti
showroom," terang Linda.
Diakui Linda, tidak cukup jika hanya
mengandalkan pemasaran melalui pengumpul atau pemesan yang datang ke
rumahnya. Ia juga memanfaatkan dunia maya untuk memasarkan produk-produk
tersebut. Mulai dari situs jejaring sosial seperti Facebook, hingga
situs jual beli online. Dari sinilah, produk-produk kerajinan tangannya
dapat merambah hingga ke berbagai wilayah Indonesia.
"Responnya sangat besar. Kita juga bahkan sering mendapatkan order dari Bali, Surabaya dan daerah lainnya," sebut Linda.
Terpisah,
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi
Takalar, Muhammad Ridwan Rahim mengatakan jika pemkab berupaya untuk
mengembangkan kembali produk-produk unggulan di Takalar. Salah satunya
dengan membangun kembali showroom yang memajang berbagai produk-produk
unggulan khas Takalar. "Mudah-mudahan segera terwujud tahun depan,"
harapnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar