Sabtu, 18 Januari 2014

Sundala’ (Sebuah Kajian Sosiolinguistik)



Sundalak atau sundala’ merupakan ungkapan berkonotasi kasar yang kerap didengar di berbagai sudut kota Daeng Makassar. Di pinggir jalan, di pasar, bahkan di pusat-pusat keilmuan seperti sekolah dan universitas. Saya yakin, beberapa dari kita pernah mendengar kata itu secara langsung, maka memahami apa artinya dan menakar seberapa kasar maknanya bukanlah perkara yang sulit.  Sundala’ adalah morfem (kata) yang konon diserap dari kosakata bahasa Indonesia “sundal”  yang berarti perempuan jalang atau pelacur. Ada juga yang mengartikannya sebagai anak haram.  Namun, sampai saat ini belum ada sumber yang jelas tentang siapa “dalang” dari penyebaran kata umpatan ini. Tapi jika ditelusuri dari speech community yang mempopulerkannya, ternyata ia menjadi prokem atau bahasa gaul dalam komunitas waria alias bencong.

Di tahun 1990, fenomenon waria menarik perhatian seorang Debby Sahertian. Ketika itu, komunitas waria dan anak jalanan di belantara Jakarta memiliki bahasa sandi tersendiri agar mereka bisa seenaknya mengumbar kata-kata cabul tanpa dimengerti artinya oleh petugas berwajib. Artis Debby Sahertian kemudian menyusun kamus bahasa gaul. Beberapa kosakatanya yang sering kita dengar adalah do’i untuk dia, macan tutul untuk macet total, Eke untuk aku, dan masih banyak lagi. Untuk kata sundala, entah komunitas waria yang menjadikannya bahan calla diantara mereka ada kaitan langsung dengan waria di Jakarta ketika itu.
Pada perkembangan selanjutnya, sundala tidak lagi terisolasi di kalangan waria sebagai bahan canda dan makian antara mereka, namun juga telah menjadi ekspresi kemarahan saat seseorang hendak beradu fisik, emosi, atau baru saja ditimpa sial. Semisal kecurian. Sang korban akan menumpahkan emosinya dengan menyemprotkan kata itu pada si pencuri —walau dia tahu sang pencuri tak mungkin mendengar kata itu.  Namun seiring waktu, kata itu menjadi trend ditengah laju budaya “bebas memilih”. Kesopan-santunan digilas, siri’ yang menjadi falsafah hidup orang Bugis Makassar pun akhirnya kian terpinggirkan. Tukang becak, anak jalanan, anak sekolah, bahkan orangtua, semuanya menyatu dalam kemunduran nilai itu.  Yang menarik, meski penuturnya tahu arti kata tersebut, mereka tak sedikitpun canggung mengucapkannya di depan rekan-rekan ketika sedang berbaur dalam canda.
Dalam esai ini, Sundala’ tak ditelaah dari segi kesopanan tindak tutur, melainkan sebagai fenomenon unik di tengah stigma orang Mangkasarak yang konon kasar—meski sebenarnya tak demikian.  Bersama dengan suntili’ dan sikulu’, sundala secara instan menjatuhkan harga diri pelakunya dan orang yang dituju. Ketika kata itu diucapkan, pada hakikatnya subjek dan objek tuturan itu sama-sama jatuh harga dirinya sebagai manusia. DR. H.M. Laica Marzuki, S.H. dalam bukunya Siri’, menegaskan bahwa siri’ menjadi etik pembeda antara manusia dan binatang. Binatang tak punya siri’ (malu) dan akal, sementara manusia memiliki keduanya, bahkan kemampuaan untuk merawat dan mempertahankan kehormatannya.
Andai kata seseorang sudah dipakasiri’ (dipermalukan), maka dalam kepercayaan kita orang Bugis-Makassar, pelakunya sah ditumpahkan darahnya lewat hunusan sebilah badik. Siri’ mewajibkan adanya tindak terhadap penyebab rasa malu, sepadan dengan tingkat rasa malu yang ditimbulkan walaupun tindakan itu biasanya diasumsikan sebagai suatu kejahatan kriminal.
Bersama siri’ itu, kita juga mengenal istilah sipakainge’ sipakalebbi’, dan sipakatau. Masing masing berarti saling mengingatkan, saling menghormati, dan saling memanusiakan. Pada kenyataannya, nilai-nilai luhur ini semakin luntur dari nuansa kearifan lokal (local genious) kita.  Adalah menarik melihat pergeseran nilai itu di keseharian kita. Umpatan sundala’ tidak dibalas dengan badik melainkan dijawab dengan serapah serupa dan diikuti gelagak tawa. Sungguh aneh.
Sebagaimana lumrah diketahui, tawa menjadi representasi kegembiraan atau suasana hati yang riang. Oleh karenanya, dalam kasus di atas, sundala’ telah melepaskan diri dari maknanya. Sundala’ secara sosial telah beralih fungsi menjadi nomenklatur perekat ikatan dan penanda keakraban di antara kerumunan manusia yang terlibat konteksnya.  Dengan keberadaan kata sundala’ di antara mereka, yang terjadi bukanlah keretakan sosial melainkan yang sebaliknya, kerekatan sosial.

Kini, penggunaan kata itu telah menjadi budaya tersendiri sehingga mustahil untuk dihilangkan. Kita tak bisa lagi berharap lebih jauh selain menghadirkan budaya yang bisa menandinginya (counter culture) suatu hari nanti.  Namun satu sisi positif yang dapat ditarik dari pergeseran budaya ini adalah bahwa sundala’ tidak menambah kekacauan dan kekerasan horizontal yang Nampak begitu menyatu dengan keseharian kita. Kata ini maknanya sudah “dijinakkan”, dan dalam beberapa hal telah menjadi peredam konflik antar orang per orangyang saling mengenal baik.  Di momen-momen peringatan hari bahasa yang jatuh pada bulan ini, setidak-tidaknya kita bisa lebih kritis dalam memaknai kebhinekaan. Jika ungkapan bermakna buruk saja bisa meruangkan kebersamaan, bagaimana dengan bahasa-bahasa yang baik dan jauh lebih sopan?

Jumat, 17 Januari 2014

BISNIS O.D.A.P Bukan Penipuan/Hoax, Buktikan

Bisnis ODAP benar-benar menjanjikan, kita bisa mendapatkan uang dengan mudah hanya dengan mensubmit Email Valid saja. Saya akan perjelas Cara kerja Bisnis ODAP ini, Begini cara jerjanya, ODAP merupakan program dari pihak ketiga atau Advertiser yang merupakan pemasang iklan, karena teknologi pihak advertiser tidak sanggup menyaingi akurasi pekerjaan manusia, dan untuk itu mereka membutuhkan bantuan kita.

 

DAFTAR GRATIS SEKARANG LANGSUNG DAPAT 200.000,-

Oke kita langsung saja menuju cara kerja sistem ODAP. Untuk bisa mengerjakan tugas,kita harus menuju ke Member Area,tapi terlebih dulu mendaftar disini. setelah kita menjadi member ODAP dan bisa masuk ke member area kita akan menemukan Kode ODAP Kita.jadi tugas kita hanya mempromosikan Kode ODAP kita, bisa di iklan gratis,Facebook,Tweeter dan sejenisnya. jika orang meng-Klik Kode ODAP kita maka mereka akan dibawa ke Form dimana orang yang telah mengklik Kode ODAP kita harus mengisi nama lengkap dan email yang valid/sebenar-benarnya. setelah itu email tersebut diverifikasi oleh pihak advertiser apakah email tersebut valid atau tidak, setelah diverifikasi Email tersebut dikirim lagi ke member area ODAP kita, dan kita mensubmit Email tersebut di member area yang sudah tersedia, jika email sukses di submit setelah itu selesailah tugas kita, dan kita mendapat bayaran 10 ribu/email yang kita submit, apakah orang yang meng-klik kode ODAP kita tersebut bergabung atau tidak, itu bukan urusan kita lagi,tugas kita hanya sampai disitu,selebihnya tugas dari pihak advertiser. jadi tugas yang kita jalankan hanya semudah itu, yang sulit itu tugas advertiser. saya rasa sudah cukup jelas penjelasan Cara kerja Bisnis ODAP ini, jika belum anda bisa langsung kunjungi website ODAP disini, karna penjelasan lebih rinci bisa anda temukan di web ODAP tersebut.
Oh ya hampir lupa,saya berikan sedikit ilustrasi berapa pendapatan anda jika anda bergabung di Bisnis ODAP disini.
bekerja di odap tidak dibatasi Quota dan waktu, seberapa sanggup anda bekerja sehari untuk mengerjakan tugas dari ODAP ini.berapa jam anda mampu menentukan jam kerja, itu terserah anda.Jika anda mendapat email yang harus di entry sebanyak 20 email maka pendapatan anda adalah 20 x 10.000,- = 200.000,- jadi banyaknya jumlah email tergantung kesanggupan anda berapa jam anda bisa bekerja. itu penghasilan 1 hari saja, bagaimana jika dikalikan 1 bulan, maka penghasilan anda 200.000,- x 30 = 6.000.000,- dan anda akan menerima bonus lagi sebanyak 2 juta perbulan jika penghasilan anda bisa mencapai 2 juta perbulan.jika penghasilan kita sebulan mencapai 2 juta atau lebih anda akan diberikan bonus insentif sebanyak 2 jt per bulan, atau seperti ini. penghasilan anda = 2.000.000,- + 2.000.000,- ( insentif di luar gaji anda ) = 4.000.000,- ( inilah penghasilan yang anda akan terima nantinya.jadi bekerjalah semampu anda, semakin giat anda bekerja maka semakin banyak penghasilan yang anda dapatkan.Jadi Bisnis ODAP ini bukan bisnis mencari member,tapi mencari Klik sebanyak-banyaknya.
BONUS KHUSUS 200 RIBU LANGSUNG JIKA ANDA MENDAFTAR SEKARANG DISINI
Bagaimana,Anda sudah siap untuk menjadi Jutawan dengan Bisnis ODAP ini, saya dan member lainnya sudah membuktikan kebenaran Bisnis ini,jadi anda tidak perlu khawatir menjalani bisnis ini.


Jika anda ingin bergabung secara gratis,ikuti langkah-langkah ini.
 

1. klik link ini uangreceh.com
 

2. setelah masuk ke tahap awal, masukan nama lengkap dan email valid anda ( tujuannya untuk memudahkan mengirimkan verifikasi ke email anda )
 

3. setelah memasuki website uangreceh.com anda klik Join ( syarat untuk bisa masuk ke member area ) anda harus mengisi data sesuai dengan data yang anda masukan sebelumnya, seperti nama lengkap dan email valid ) kalau tidak sesuai data anda akan ditolak.
setelah masuk ke member area anda bisa mencoba versi demo cara kerja ODAP. anda dijamin tertarik karena begitu mudahnya cara kerja bisnis ODAP ini.
salam sukses semua ya yang sudah bergabung di Bisnis Online ODAP.

Selasa, 10 April 2012

FILSAFAT CINTA PLATO
        Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? dan bagaimana saya menemukannya?.”Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali. Kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?.” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya.” Gurunya kemudian menjawab, “Jadi ya itulah cinta.” Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? dan Bagaimana saya bisa menemukannya?.” Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan.” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?.” Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya.” Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan. Post link : http://ssenimangila.blogspot.com Sumber : Dikutip dari berbagai sumber terkait

Jumat, 06 April 2012

KARAENG GALESONG DI TANAH JAWA

Sejarah menuturkan, perjuangan Karaeng Galesong berlanjut ke tanah Jawa. Ia berlabuh di wilayah timur pulau Jawa dengan jumlah pasukan yang besar. Belum ada data yang jelas namun ada yang mengatakan lebih dari 4.000 prajurit. Di masa itu di wilayah Jawa Timur terdapat dua penguasa besar dan ditakuti, yakni Adipati Anom di Mataram dan Trunojoyo di Madura. Kedua penguasa besar ini saling bermusuhan. Karaeng Galesong diakrabi oleh Trunojoyo dan mendapat restu menikahi keponakan Trunojoyo.
Pelarian Karaeng Galesong ke tanah Jawa dikarenakan kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda pada tahun 1669. Ia tidak ingin berada di bawah jajahan Belanda, karenanya memilih untuk meninggalkan tanah Gowa bersama beberapa kerabat kerajaan. Mereka antara lain Karaeng Tallo Sultan Harunnarrasyid Tumenanga ri Lampana dan Daeng Mangappa, saudara kandung Karaeng Tallo. Dua lainnya paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana, dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa
Sebelum perkawinan Karaeng Galesong, Trunojoyo meminta Karaeng Galesong dengan pasukannya membantu menyerang Gresik dan Surabaya yang berada dalam kekuasaan Adipati Anom, Pasukan Karaeng Galesong seperti ditulis ahli sejarah Belanda, Degraff, Karaeng Galesong berhasil mengobrak-abrik pasukan Adipatai Anom yang kemudian lari ke jawa Tengah.
Menurut catatan sejarah, pada 21 November 1679 sang panglima wafat di daerah Ngantang Kabupaten Malang. Kisah kematiannya diperoleh sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief, yang catatannya sekarang masih tersimpan rapi di Denhaag.
Prasasti di makam sang karaeng.


Abadi di Ngantang
Adalah Ngantang, sebuah daerah di kabupaten Malang, tidak jauh dari kota Batu yang menjadi peristirahatan terakhir sang karaeng. Daerah ini sejuk dan asri, dan di sinilah terdapat sebuah pemakaman yang luasnya sekitar seratus meter persegi, dengan beberapa pohon kamboja tua.
Suasana pemakaman nampak bersih, hanya terdapat beberapa batu nisan dengan tatanan batu bata tua yang sudah berlumut dan sebuah gundukan agak memojok dengan nisan yang telah berlumut pula. Diyakini makam ini adalah kerabat Karaeng Galesong. Tidak jauh dari gundukan tersebut, terdapat batu nisan dari marmer yang tampaknya belum begitu lama dipasang. Di sinilah makam Karaeng Galesong berada. Kuburan yang ditata dengan tumpukan batu bata dipenuhi lumut. Di antara nisan dan kuburan, berdiri tiang sekitar satu meter dengan bendera merah putih. Di bawah kibaran bendera terdapat tulisan kata “pejuang”.
Pada prasasti marmer di kuburan itu, terukir tulisan berwarna emas menggunakan bahasa Arab, yang terjemahan bebasnya berarti, “di sinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang dijalan Allah.” Di bawah prasasti ini terdapat tulisan nama sebuah kelompok pengajian, yang menyebut diri warga Malang keturunan Galesong.
Bugis Makassar di Malang
Masyarakat Bugis Makassar memang banyak bermukim di Malang dan sekitarnya. Karaeng Galesong pun menjadi kebanggaan. Ziarah ke makam sang karaeng merupakan rutinitas. Dua tahun lalu, misalnya, masayarakat Sulawesi-Selatan yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS Malang Raya) dan Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Indonesia Sulawesi-Selatan (IKAMI Sul-Sel Cab. Malang) mengadakan acara memperingati hari korban 40.000 Jiwa, yang salah satu kegiatannya adalah berziarah ke makam Karaeng Galesong.
Salah satu artikel di buletin Anging Mamiri yang diterbitkan oleh KKSS Malang raya, Salahauddin Basir menuliskan bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo, motor pergerakan Budi Utomo masih merupakan keturunan Galesong. Pada tahun 60-an, seorang guru besar di Universitas Gajah Mada bernama Prof. Mr.Djojodiguno, pakar hukum yang terkenal, sering bertutur kepada mahasiswanya bahwa ia berdarah Makassar, merupakan keturunan Karaeng Galesong. Tentu kita juga masih ingat, Setiawan Djodi, seniman dan budayawan yang dinobatkan sebagai keturunan Karaeng Galesong beberapa tahun lalu.(p!)